Baberapa waktu yang lalu “kabarnya” beredar foto-foto “kurang pantas” milik salah seorang selebriti di dunia maya (entahlah saya juga belum lihat). Setelah dikonfirmasi di twitternya, sang selebriti hanya menganggap foto tersebut sebagai karya seni, bukan pornografi. Dan orang yang menganggapnya pornografi disebut (maaf) kampungan. Benarkah demikian? Lalu apa sebenarnya parameter kampungan itu? ah sudahlah, saya juga bingung. Kita masuk ke topik pembicaraan saja.
Seni yang Vulgar, layakkah?
Apakah yang disebut seni sebenarnya? Sejauh ini tidak ada definisi pasti darinya. Meminjam mimesisnya Aristotle, kita dapat menyebut seni sebagai medium ekspresi diri dari manusia, atau bentuk interpretasinya terhadap sesuatu. Produk seni dapat mempengaruhi salahsatu atau lebih aspek dalam diri manusia, entah itu indera, emosi, atau pikiran.
Berangkat dari pengertian ini, seni bisa menjadi sebuah bidang yang amat luas cakupannya. Tidak menutup kemungkinan, suara (maaf) kentut pun bisa menjadi karya seni. (Sebagai contoh lihat dalam manga pank-ponk episode “kentut yang bernada”; dimana ayah dari Boni berhasil menciptakan nada do hingga si dari suara kentut. Hebat bukan?).
Pertanyaannya berikutnya hanyalah, manakah seni yang layak dihargai dan diapresiasi, dan mana yang perlu disingkirkan jauh-jauh. Continue reading