Opini: Seni yang Vulgar…

Baberapa waktu yang lalu “kabarnya” beredar foto-foto “kurang pantas” milik salah seorang selebriti di dunia maya (entahlah saya juga belum lihat). Setelah dikonfirmasi di twitternya, sang selebriti hanya menganggap foto tersebut sebagai karya seni, bukan pornografi. Dan orang yang menganggapnya pornografi disebut (maaf) kampungan. Benarkah demikian? Lalu apa sebenarnya parameter kampungan itu? ah sudahlah, saya juga bingung. Kita masuk ke topik pembicaraan saja.

Seni yang Vulgar, layakkah?

Apakah yang disebut seni sebenarnya? Sejauh ini tidak ada definisi pasti darinya. Meminjam mimesisnya Aristotle, kita dapat menyebut seni sebagai medium ekspresi diri dari manusia, atau bentuk interpretasinya terhadap sesuatu. Produk seni dapat mempengaruhi salahsatu atau lebih aspek dalam diri manusia, entah itu indera, emosi, atau pikiran.

Berangkat dari pengertian ini, seni bisa menjadi sebuah bidang yang amat luas cakupannya. Tidak menutup kemungkinan, suara (maaf) kentut pun bisa menjadi karya seni. (Sebagai contoh lihat dalam manga pank-ponk episode “kentut yang bernada”; dimana ayah dari Boni berhasil menciptakan nada do hingga si dari suara kentut. Hebat bukan?).

Pertanyaannya berikutnya hanyalah, manakah seni yang layak dihargai dan diapresiasi, dan mana yang perlu disingkirkan jauh-jauh. Inipun menjadi sangat subjektif tergantung kepada siapakah (atau masyarakat manakah) yang menilai karya seni itu. Dan hal ini tidak akan pernah terlepas dari filosofi, karakter, worldview, bahkan keadaan sosial dan ekonomi, serta hal-hal internal yang ada dalam individu/masyarakat tersebut.

Pernahkah anda melihat lukisan The Birth of Venus karya Botticelli? minimal fotonya (kalau tidak pernah ya tidak usah dilihat); atau saya berikan contoh yang lokal sahaja. Di candi sukuh misalnya, hal-hal berbau seksualitas divisualisasikan secara vulgar dan jelas dalam bentuk-bentuk arca. Ini adalah “sekian dari sekian” banyak contoh seni yang oleh masyarakat “kita” dianggap “vulgar dan porno”. Tapi cobalah anda ke barat sana (taulah barat mana yang saya maksud); seni-seni seperti ini justru mendapatkan penghargaan yang tinggi dari masyarakat tersebut.

Mengapa responnya bisa berbeda? Masyarakat kita kampungankah? Menurut saya bukan karena itu. Melainkan karena perbedaan filosofi dan worldview yang kita miliki dengan masyarakat barat. Tapi cobalah kita berpikir sesuai dengan filsafat dan worldview mereka (atau mungkin sudah?) niscaya kitapun akan menganggap “obyek-obyek yang merepresentasikan hal-hal vulgar” tersebut sebagai seni yang layak dihargai.

Worldview barat yang sekuler dan materialis; seringkali memandang sesuatu secara “per se”. Dalam kesenian mereka dikenal istilah L’art pour l’art (kalau kata orang sunda mah… art for art’s sake; kalau bahasa jawanya, Ars gratia artis). Yah meskipun ada juga yang mengkritik pernyataan ini dengan mengatakan bahwa seni itu fungsional dan memiliki kandungan moral dan utilitarian; nyatanya kita dapat menyaksikan bahwa moralitas dan utilitarian-nya orang barat itu mengandung banyak sekali perbedaan dengan kita. Jadi sudah pasti akan ada perbedaan yang mendasar dalam memandang, merespon, dan mengapresiasi sebuah karya seni, terutama karya seni (lebih spesifik lagi seni visual) yang mengandung unsur-unsur vulgar dan erotis, antara masyarakat kita dengan masyarakat barat.

Masyarakat kita sendiri bagaimanakah?

Saya tidak akan membicarakan masyarakat Indonesia yang sudah terbaratkan, melainkan akan membicarakan “kebanyakan” masyarakat Indonesia yang masih menganut nilai-nilai moral dan religius (Islam); yang secara sadar ataupun tidak, (meskipun sudah tergerus sana-sini) nilai-nilai tersebut masih memiliki tempat di dalam diri mereka. Jadi saya akan mengambil asumsi bahwa masyarakat kita, adalah masyarakat yang cara pandangnya terhadap seni masih dipengaruhi oleh cara pandang religius Islam; karena telah lamanya Islam hidup dan memberikan bentuk pada masyarakat ini.

Lalu seni visual dalam Islam itu seperti apa? Berikut ini saya kutipkan saja tulisan Dr. Ismail R. Al Faruqi mengenai seni visual:

Seni visual Barat hampir sepenuhnya bersandar pada watak atau sifat manusia, apakah ia diungkapkan dalam figur manusia, pemandangan alam, benda-benda mati atau bahkan desain abstrak. Seni visual Islam tidak tertarik pada sifat manusia, melainkan sifat ilahi. Karena tujuannya bukan untuk mengungkapkan segi-segi baru dari watak manusia, secara estetis ia tidak membahas figur manusia, artinya, ia ridak menggambarkan perubahan-perubahan kecil dalam penampilan manusia yang mengungkapkan wataknya. Karakter manusia, gagasan a priori tentang manusia yang dapat dianalisis dalam berjuta rincian yang mengungkapkan kedalaman atau ketinggian lain dalam kepribadian manusia – semua ini bagi seniman muslim tidak masuk hitungan. Tuhan adalah cinta pertamanya dan obsesi terakhirnya. Berada di hadirat Ilahi baginya adalah puncak dari seluruh eksistensi, kemuliaan, dan keindahan. Untuk mencapai tujuan ini, kaum Muslimin mengitari diri mereka dengan berbagai sarana dan rangsangan yang menghidupkan intuisi akan kehadiran Ilahi.

Demikianlah yang ditulis Dr. Faruqi dalam bukunya; Tauhid. Berdasarkan kutipan ini, saya akan menyimpulkan karakteristik seni dalam Islam:

    • Seni dan tauhid merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seni dalam Islam tidak akan lepas dari usaha manusia untuk meng-Esakan Allah swt. Usaha manusia untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan usaha untuk mengekspresikan penghambaan dan penyerahan diri yang utuh kepadaNya. Dengan sendirinya, seni yang mengandung penyekutuan, atau seni yang mengandung pelanggaran terhadap larangan-laranganNya, akan ditolak sepenuhnya.
    • Karena seni dalam Islam tidak terlepas dari Tauhid, maka dengan sendirinya seni tersebut tidak akan terlepas dari fungsi derivatif Tauhid. Ia tidak akan terlepas dari ‘adl (keadilan), ‘ilm (ilmu), ‘iman, ‘ibadah, ‘istihsan (kepentingan umum), dan hasil derivasi lainnya. Jadi dalam Islam, seni itu tidak akan lepas dari fungsinya. apakah itu fungsi moral (dengan mengacu pada nilai-nilai moral berdasarkan Islam), juga fungsinya dalam masyarakat Islam (ummah) dan perannya dalam merepresentasikan Tauhid. Dengan sendirinya, konsep L’art pour L’art ataupun seni utilitarian a la barat, kedua-duanya tertolak dalam seni Islam.
Granada - Alhambra Corner - Shoes on Wires

Granada - Alhambra Corner by Justus Hayes on shoesonwires.com

Hasil

Apakah seni Islam yang demikian tersebut akan menghalangi seniman dalam berekspresi dan menuangkan karya-karyanya? Jawabannya tentulah tidak. Justru karakteristik seni dalam Islam tersebut telah membawa para seniman ke tingkat pencapaian seni yang luar biasa. Pencapaian yang diraih seni visual Islam merupakan salahsatu pencapaian besar dalam sejarah semenjak 1400 tahun yang lalu. Ribuan karya seni transenden dengan keindahan yang universal, telah lahir dari tangan-tangan terampil seniman Muslim. Keindahan yang dihasilkannya telah disaksikan dan diakui dunia. Datanglah ke Granada dan amati setiap detil pilar Alhambra, dan anda akan memahami apa yang saya maksudkan. Arabesque Islam yang indah pun telah diambil dan dipakai sebagai salahsatu teknik dekorasi terbaik di seluruh dunia. (Mengenai Arabesque sendiri sudah pernah saya bahas di blog ini).

Kesimpulan

Akhirnya, sebagai seorang Muslim yang tinggal di negeri timur, saya telah sampai kepada kesimpulan, bahwa seni yang mengangkat obyek manusia dalam keadaan (maaf) telanjang atau vulgar; memang bukanlah seni yang layak diapresiasi. Standar seni Islam itu terlampau tinggi dan transenden. Melampaui alam materi menembus alam metafisik untuk menyatu dengan keridhaan Sang Pencipta. Seni yang menggambarkan obyek manusia telanjang (atau hal-hal vulgar lainnya), terlampau rendah dan tidak menghargai obyek itu sendiri (sebagai insan yang memiliki nilai moral, etika, estetika, rasa malu, dan tanggungjawab terhadap kemaslahatan dan kebaikan ummah). Manusia dipotret serupa memotret binatang, dan hasil seninya pun akan membawa lebih banyak dampak buruk ketimbang dampak baik terhadap ummah. Bayangkan jika anak-anak di bawah umur melihat hal-hal yang demikian, bahkan orang dewasapun akan terganggu dan terpacu untuk mengisi pikiran mereka dengan hal-hal yang tidak pantas. Belum lagi dampaknya terhadap model seni itu sendiri (jika dia eksis dan bukan rekaan). Bagian-bagian tubuhnya yang seharusnya dilindungi dari pandangan umum, telah jatuh ke tahap tidak berharga; dan rasa malunya (sebagai salahsatu modal untuk mendekatkan diri kepada Ilahi) akan menghilang perlahan-lahan. Jika dampak buruknya terlampau banyak, bukankah seharusnya dihindari bahkan dihilangkan saja?

Epilog:

Tidak ada kebebasan yang utuh di dunia ini. Diterima atau tidak, setiap manusia akan terikat pada aturan dan sistem nilai tertentu. Demikian pula halnya dalam menciptakan karya seni. Seorang manusia tidak akan terlepas begitu saja dan menciptakan sesuatu dengan mengabaikan sekitarnya. Dalam hal ini, Islam telah berhasil mendefinisikan seni-nya sendiri, dan definisi itu telah berhasil membawa seniman Muslim ke tingkat pencapaian yang luar biasa. Islam tidak melarang seni, melainkan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.

Begitulah kira-kira

Wallahu A’lam bisshowab.

Referensi:

Lihat karya Ismail Raji Al Faruqi  berjudul Tawhid: It’s Implication for Thoughts and Life. Edisi Indonesia berjudul Tauhid, diterbitkan oleh penerbit Pustaka Bandung, tahun 1982.

2 thoughts on “Opini: Seni yang Vulgar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s